Senin, 12 Agustus 2013

Do What You Like And Money Will Follow

A man isn't poor if he can still laugh
Ega (bukan nama sebenar) kerap kali mengeluh atas kondisi pekerjaan dan keuangannya. Setiap kali bertemu teman ataupun di sosial media, beliau kerap kali mengeluh merasa jenuh, capek , gaji kecil, selalu merasa kurang, dsb. Padahal jika diamati para temannya, si Ega ini termasuk beruntung, sarjana, masih muda, sudah pegawai tetap di BUMN, gaji lumayan, dan sudah memiliki kendaraan pribadi.

Tentunya kita sering menemui Ega - Ega yang lainnya di sekitar kita. Ada apa dengan fenomena ini? Terkadang banyak orang malah menanggapinya dengan sinis atau bernasihat, macam :

"Bersyukurlah mas, masih untung bisa kerja, banyak orang yang belum bisa kayak elu"
"Belagu"
"Sok kali lu, disuruh kerja aja susah"

Ya, kalimat /nasihat diatas mungkin ada benarnya, tapi sebenarnya tidak memberikan solusi sedikitpun buat masalah yang dihadapi Ega. Disini Ega punya masalah, tapi menghujatnya malah tidak menyelesaikan masalah. Kebiasaan di masyarakat kita, suka menghujat / menasihati tapi tanpa pernah diberikan solusi.


Saya ingin sedikit sharing tentang motto yang saya pegang selama ini : "Do what you like and money will follow". Lebih kurang artinya : "Lakukan apa yang kamu suka, ntar uang akan datang dengan sendirinya". Motto ini pernah ditentang oleh seorang teman saya, "Gak mungkin Di, kita berbuat seenaknya, emang siapa yang mau ngasi lu duit?".

Sory fren, bukan itu maksudnya.

Oke berikut ada cerita pendek tentang Rina dan Rini :
Rini memiliki pekerjaan yang disukainya (LIKE) alias hobby. Yaitu memasak mie.
Rini sangat cinta dengan kuliner mie, dia tidak puas dengan sekedar bumbu yang ada di kemasan mie instan.
Rini mulai bereksperimen, dicampurnya mie dengan sayur, telor, dll. Trial dan error.
Dan Rini sangat detil dengan rasa, dia benar-benar mencari racikan yang sempurna demi mendapatkan rasa yang pas.
Rini banyak menghabiskan waktu buat belajar memasak mie, tapi tidak demikian dengan Rina.

Rina menganggap memasak mie tidaklah perlu didalami terlalu serius. Jika lapar, cukup beli mie instan, ikuti petunjuk masak yang ada di balik kemasan,... aaanddd it's done. Silakan dimakan. Gitu aja kok repot, kata Rina.

Tapi tetap hasil akhirlah yang menentukan, ketika Rini dan Rina memutuskan untuk mencari nafkah dengan berjualan mie di pasar.

Rini, yang sudah berpengalaman memasak mie, berupaya memberikan hasil yang terbaik bagi pelanggannya. Begitu juga dengan Rina, mencoba memasak mie sebaik mungkin. Trus bedanya dimana?

Bedanya ada di semangatnya, coy.

Rini memasak dengan hati, dengan perasaan, dengan passion, kalo mau sedikit lebay, ya memasak dengan cinta. Rini tidak peduli bisa laku berapa porsi, yang dia tau, dia senang masak mie, dan dia ingin semua pelanggan bisa merasakan hasil terbaiknya.

Sedangkan Rina tidak demikian, Rina memasak karena tujuan ekonomi. Ada pelanggan, saya masakkan mie untuknya, pelanggan bayar, saya dapat untung. Prinsip dagang secara umum.

Pada level ini apakah Rini lebih kaya dari Rina? Belum tentu.
Tapi pelan-pelan seleksi alam akan terjadi. Pelanggan akan mulai membandingkan rasa (baca : hasil) di antara keduanya. Pelanggan akan lebih memilih masakan Rini, karena Rini selalu memberikan hasil yang terbaik. Katakanlah Rina banting harga produknya, pasti pelanggan tetap pilih Rini. Di level inilah, akan muncul loyalitas pelanggan kepada Rini, dan jika kita bicara loyalitas, uang (MONEY) bukan masalah lagi.

Cerita diatas juga menjawab kenapa masakan ibu kita lebih enak dari masakan restoran. Karena seorang ibu selalu memasak masakan terbaiknya atas dasar cinta kepada keluarganya.

-------------

OK cukup, sekarang kita kembali ke Ega. Berarti masalah Ega terjawab sudah. Jika kita simpulkan, dengan analisa sebab-akibat, permasalahannya bisa kita simpulkan adalah :
  • Ega tidak cinta dengan jenis pekerjaannya.
  • Karena Ega tidak cinta pekerjaannya, maka Ega bekerja secara terpaksa, hanya untuk tujuan ekonomi
  • Karena bekerja terpaksa, Ega tidak bisa memberikan hasil kerja yang baik.
  • Hasil kerja yang tidak baik, atasan / pelanggan tidak senang
  • Ketika atasan / pelanggan tidak senang, sangsi pun diberikan, baik moril maupun materil.
  • Makanya Ega walaupun sudah bekerja mapan, tetapi dia selalu mengeluh jenuh, merasa tertindas, dan selalu kurang dari sisi materil.

Trus solusinya gimana? Plis, jangan dihujat lagi :-)
Beberapa solusi yang bisa kita berikan ke Ega, antara lain :
  • Pindahkan Ega ke bidang pekerjaan yang disukai, niscaya dia akan bisa memberikan hasil terbaiknya
  • Bantu Ega untuk mencoba mencintai pekerjaannya, mungkin dengan refreshing, perbaikan pola kerja, SOP, sistem, dll.

------------

Do what you like and money will follow...
Saya senang dengan dunia IT, dan saya juga bekerja di bidang IT di perusahaan saya.
Walau banyak pihak yang mengatakan saya salah langkah dengan memilih IT sebagai career path, tapi tak mengapa.
Sangat menyenangkan bisa bekerja dengan hobby, ketimbang bekerja tapi ada ketidakikhlasan di hati.
Insya Allah, rezeki tetap mengalir dari hobby yang saya tekuni ini.

Bagaimana dengan anda? Apakah anda memiliki motto lain yang bisa di share di sini?
Mari berdiskusi

----------
Old Man Nepal picture taken from www.values.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar